”TEU sangka ya Jang. Benar-benar tidak ada yang menduga… ,” kata Kang Kabayan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mulutnya beberapa kali mengeluarkan suara decak. Kagum. ”Apa Kang yang tidak Akang sangka teh? Sampai ka terus-terusan kekecrek seperti orang ngurek belut saja si Akang mah… hehehe,” kata saya.
”Itu Jang… Irak! Siapa yang menyangka Irak bakal jadi juara sepak bola Piala Asia. Padahal, negeri mereka tengah dilanda perang. Padahal, mereka hanya berlatih selama dua bulan. Siapa yang menyangka mereka bakal juara Jang,” ujar Kang Kabayan. ”Ooo.. itu Kang! Memang tidak disangka Kang. Cuma, seperti mereka itulah yang sering disebut sebagai kuda hitam. Tidak ketahuan kekuatannya. Begitu muncul, lawan dan saingan-saingannya disingkirkan,” kata saya.
”Betul Jang! Pokoknya mah, para pengamat sepak bola pada kecele. Katanya Cina, Jepang, Korsel, dan Arab Saudi yang punya kekuatan hebat di Asia. Ternyata, mereka tak mampu tampil sebagai juara,” kata Kang Kabayan lagi. ”Sebenarnya mah Kang, prediksi para pengamat tidak terlalu salah. Kekuatan sepak bola Asia teh memang masih di seputar negara-negara itu. Buktinya, mereka yang mampu lolos ke semifinal. Mungkin, mereka hanya kurang beruntung. Lihat saja, berapa partai yang harus diakhiri dengan adu tendangan penalti. Itu kan artinya kekuatan sepak bola Asia teh merata,” kata saya.
”Iya sih… bener juga apa yang kamu katakan. Cuma, Akang masih suka penasaran Jang. Kok, dari saopat-opat tuan rumah, tidak satu pun yang bisa lolos ke semifinal. Tong atuh jadi juara mah, bisa lolos ke semifinal saja sudah bagus,” tutur Kang Kabayan.
Setelah sedikit mengernyitkan dahi, ”Hehehe…, empat tuan rumah teh pan merupakan macan sepak bola Asia Tenggara Kang, yang lolos ke putaran final dengan nikmat. Mereka tidak perlu berjuang dari babak kualifikasi,” kata saya. ”Maksud kamu Jang?” tanya Kang Kabayan kurang paham.
”Begini Kang, karena mereka tidak melalui babak kualifikasi, kualitas mereka tidak teruji. Jadinya, ya… kalah pada babak-babak awal. Komo Malaysia mah, jadi keranjang gol bagi lawan-lawannya. Masih mending Indonesia mah Kang, kebobolannya sedikit.”
”Hehehe… kebobolan sedikit atau banyak, tetap saja gagal kan Jang?” Kang Kabayan menyergah. ”Ih, beda atuh Kang! Kebobolan sedikit mah tidak terlalu malu seperti tim yang kebobolan banyak. Malah kita boleh bangga Kang. Tim nasional kita teh hampir bisa menahan imbang Arab Saudi. Kalau saja bisa nahan, wah… tim kita bisa lolos ke perempatfinal Kang,” kata saya.
”Saya mau nanya Jang, ari hampir teh sama dengan berhasil? Hampir menahan imbang teh sama dengan berhasil menahan imbang?” tanya Kang Kabayan. Terdengarnya seperti orang yang melecehkan. ”Ulah kitu Kang…, bagaimanapun tim nasional sepak bola kita sudah memperlihatkan kemajuannya. Masalah kalah mah, itu karena faktor keberuntungan saja. Kita masih belum beruntung Kang,” kata saya.
”Tuh kan…, sekarang keberuntungan yang kamu jadikan kambing hitam. Jangan pakai alasan yang tidak-tidak atuh Jang. Kalau kualitas kita masih di bawah mereka, ya akui saja. Jangan cari kambing hitam. Jangan cari alasan,” kata Kang Kabayan lagi.
”Hehehe… pan di kita mah jagonya nyari kambing hitam teh. Anehnya teh deui nya Kang, yang jadi kambing hitamnya teh selalu saja ada. Kalau bukan dewi fortuna atau keberuntungan, biasanya bola yang disalahkan. Bola bundar, cenah! Padahal, ari tidak bundar mah atuh lain ge bola. Kotak, segi tiga, atawa tabung!”
”Hahaha… kenapa jadi kamu yang senil Jang? Bukannya tadi kamu membanggakan timnas?” tanya Kang Kabayan. ”Akang sih…, dari tadi nyepetan terus. Dipikir-pikir, benar juga ya Kang! Orang-orang kita teh paling pintar cari kambing hitam. Ngeles terus nyalahkeun batur. Sukses sedikit langsung pesta. Kalah gagal, cari alasan dan kambing hitam,” kata saya.
”Akang punya ide Jang. Tim kita sebenarnya bisa mengalahkan Irak,” tutur Kang Kabayan. ”Kumaha Kang?” tanya saya. ”Begini Jang…, seperti kata kamu, Irak teh tim kuda hitam. Nah, di kita banyak kambing hitam. Urang adukeun we Jang. Kita adu mereka. Cikan…, menang mana, kambing-kambing hitam lawan kuda hitam?” tutur Kang Kabayan. ”Hehehe… bodor henteu nya? Garing Kang! Sumpah teu aya bodor-bodorna. Mendingan enggak punya ide saja Kang… hehehe….” *
wkwkwk saya ga bisa bahasa sunda tapi sangat menangkap isi dialog di atas. Betul sekali, bangsa kita memang pintar sekali mencari alasan, pembenaran, dan alibi. Makanya bodoh terus dan ga berkembang. Nice post!
Oleh: wenas1032 on Januari 17, 2009
at 8:54 am
Terima kasih Mas… ga pa pa pake bahasa campur sari ya pake Sunda… sekalian belajar bahasa Sunda dikit-dikit ya…hehehe
Oleh: abahetet on Januari 30, 2009
at 9:09 am