”KUMAHA Jang, sudah pernah batal saum kamu? Kayaknya mah enggak ya Jang? Moal enya, kamu yang masih muda kalah sama Akang! Alhamdulillah, Akang mah masih ditangtayungan dan belum pernah batal sekali pun,” tutur Kang Kabayan. Kami baru saja duduk istirahat di bawah pohon mahoni dekat lapangan Gasibu Bandung, setelah menempuh perjalanan cukup jauh. Saya memboncengkan Kang Kabayan di atas sepeda motor berkeliling kota. Sore itu, Kang Kabayan mengajak saya ngabuburit, menunggu waktu berbuka saum. Tentu saja, saya tidak boleh berkeberatan mendapat ajakan yang berupa tugas negara itu.
”Alhamdulillah Kang…, kalau yang disebut batal puasa itu karena makan dan minum, saya belum pernah batal! Cuma, kita kan enggak tahu, apakah saum kita diterima Allah atau tidak. Kita mah hanya bisa berdoa, semoga saum dan amal ibadah kita selama ini dapat diterima Allah sebagai amal salih kita Kang…,” kata saya. ”Amiinnn…,” sahut Kang Kabayan.
”Memang Jang…, ukuran batal saum itu bukan hanya makan dan minum. Banyak hal yang bisa membatalkan pahala saum kita. Makanya, selama saum, kita harus hati-hati saat ngomong atau melakukan sesuatu. Kita harus ikhlas Jang…,” kata Kang Kabayan. ”Iya Kang…, dan ternyata ikhlas itu bagus buat kesehatan juga Kang,” kata saya menimpali.
”Maksud kamu Jang?” tanya Kang Kabayan. ”Iya Kang…, dengan ikhlas, kita tidak akan terserang penyakit darah tinggi. Soalnya, kita selalu ikhlas dan sabar menerima apa pun yang menimpa kita. Kita tidak akan pernah iri atau dengki yang menjadi sumber penyakit darah tinggi,” kata saya menjelaskan
”Duh…, bener pisan Jang! Memang kalau kita ikhlas mah, segalanya bisa jadi ringan. Sebagai contoh, kita harus ikhlas bila ada para pejabat yang dibui gara-gara dituduh korupsi,” kata Kang Kabayan. ”Heuheuheu… si Akang mah! Yang begitu mah bukan kita yang harus ikhlas, tapi pejabat yang dibuinya itu Kang yang harus ikhlas teh,” kata saya.
”Ah, kata siapa hanya pejabatnya yang harus ikhlas? Buktinya, ketika Ketua Umum PSSI harus dibui lagi, para insan sepak bola tetap mempertahankannya untuk terus memimpin. Coba kalau diikhlaskan dan PSSI bikin musyawarah luar biasa untuk memilih ketua lagi,” tutur Kang Kabayan. ”Ih ari Akang! Justru, mereka teh ikhlas dipimpin sama ketua yang dipenjara. Mereka ikhlas dan setia kawan. Tidak ada istilah ’habis manis sepah dibuang’ dalam kamus mereka. Itu kan bagus Kang,” kata saya.
”Memang bagus buat mereka mah, tapi belum tentu bagus buat masyarakat,” kata Kang Kabayan. ”Maksud Akang?” tanya saya. ”Iyeuh…, beberapa waktu lalu, PSSI mengeluarkan keputusan bahwa tidak ada degradasi pada kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia tahun ini. Malahan, katanya untuk tahun depan mah ada kompetisi super liga. Terus, jatah dari divisi satu bakal nambah untuk masuk ke divisi utama…”
”Terus? Apa ruginya masyarakat Kang? Malahan masyarakat mah tambah sugema, bakal banyak tim kesayangannya yang main di divisi utama,” kata saya memotong. ”Tah, kamu mah! Kadang-kadang kamu the pinter Jang, tapi sering loba bodona,” kata Kang Kabayan. ”Dengan banyaknya tim sepak bola tampil di divisiutama, makin banyak APBD yang tersedot ke sana. Sok kamu lihat, sekarang saja, ratusan miliar dana APBD sudah dipakai klub-klub sepak bola di Indonesia, yang katanya mah profesional,” ujar Kang Kabayan.
”Aeh betul juga ya…! Semakin banyak kompetisi, semakin banyak klub, semakin banyak biaya ya Kang? Tapi, bukannya untuk tahun depan mah klub-klub itu tidak boleh lagi menggunakan duit APBD Kang?” tanya saya lagi. ”Lah, ari kamu! Di kita mah Jang, apa yang diomongin sekarang, besok bisa berubah. Jangankan yang cuma omongan, yang jadi aturan tertulis saja bisa beda dalam pelaksanaanna mah. Dari mana atuh klub bisa mencari uang puluhan miliaran kalau bukan dari APBD. Yang enggak dapat duit dari APBD mah pasti klubnya mati. Tuh lihat, Bandung Raya, Niac Mitra atau Mitra Surabaya, Warna Agung, KTB… atau klub-klub lainnya, sudah almarhum!” kata Kang Kabayan.
”Ya, sudah Kang… kita ikhlaskan saja,” kata saya menyergah. ”Apa? Kita ikhlaskan duit APBD dipakai sepak bola? Bagaimana dengan pendidikan anak-anak kita yang kurang anggaran? Bagaimana dengan kesehatan saudara-saudara kita yang kemahalan beli obat? Bagaimana …,”
”Bukan Kang… maksud saya the, kita ikhlaskan saja klub-klub yang sudah almarhum itu…! Da, bagaimana lagi atuh Kang…,” kata saya. Ikhlas, pasrah, atau menyerah…? Entahlah.*
Komentar Terakhir