”Dunia iniii… panggung sandiwara, ceritaaa nyyaaa mudah berubah….” Terdengar suara Mang Juned ngahariring di poskamling. Tentu saja, mendengar dan melihat Mang Juned menyanyi, Kang Kabayan merasa gembira. ”Eh, si Juned sudah bisa ngahariring lagi Teung? Kayaknya dia sudah sembuh dari penyakit bengognya,” kata KangKabayan kepada Ceu Iteung. ”Aeh, iya Kang. Sok atuh lihat ke sana. Ajak dia ngobrool. Apa memang dia sudah benar-benar sembuh,” ujar Ceu Iteung.
Tanpa banyak komentar lagi, Kang Kabayan langsung berjalan menuju poskamling. ”Juunnn, bagaimana? Cageur? Kayaknya kamu sudah kelihatan gembira lagi,” ujar Kang Kabayan saat sampai di poskamling. Tanpa memedulikan kehadiran Kang Kabayan, Mang Juned terus bernyanyi lirih. ”Ada peran wajar… ada peran berpura-puraaaa…, mengapa kita bersandiwaraaa….”
”Juunnn…, kamu teh belum cageur? Belum baik yah? Kok Akang tanya, seperti yang tidak peduli?” tanya Kang Kabayan agak keras. Mang Juned menoleh. Sepintas, Kang Kabayan melihat sorot mata Mang Juned yang masih terlihat lemah tanda murung. ”Oh…, Akang. Damang Kang?” balas Mang Juned dengan suara lirih.
”Emh…, bagja! Kamu sudah bisa nanya sama Akang, artinya kamu sudah sembuh Jun. Akang senang dan bahagia. Ternyata, kamu sudah benar-benar sembuh. Kabar Akang dan baraya salembur sehat Jun. Justru, selama ini kamu yang kami khawatirkan,” tutur Kang Kabayan. ”Ah Kang…, dari dulu juga saya mah tidak apa-apa. Cuma stres mikirin biaya sekolah anak saya. Sekarang, saya sudah pasrah. Mau sekolah, mau jadi atlet, nganggur, atau mau jadi apa pun anak saya, biarkan saja Kang. Rezeki mah pan di tangan Allah. Betul enggak Kang?” tutur Mang Juned.
”Duh, bener pisan eta the Jun. Syukuuurrr…, kamu sudah sembuh. Malah, kayaknya kamu sekarang lebih pintar dan bijaksana. Jadi, selama ini. Tampaknya kamu the neuleuman alias mendalami ilmu kebijakan ya Jun?” tanya Kang Kabayan. ”Enggak Kang…, saya hanya merenung. Lalu, dari renungan itu, saya melhat tidak ada lagi harapan buat saya dan anak saya,” katanya.
”Lo…, mengapa begitu Jun?” tanya Kang Kabayan lagi. ”Iya Kang…, saya sebenarnya ingin anak saya maju. Kehidupannya lebih baik dari saya. Cuma, buat orang-orang seperti saya sulit Kang untuk memperbaiki hidup. Untuk sekolah susah, cari kerja apalagi! Padahal, untuk mengubah hidup ke arah yang lebih baik, kita teh harus kaya dulu. Padahal, untuk kaya, kehidupan kita harus lebih baik dulu,” kata Mang Juned.
”Harus kaya dulu? Lebih baik dulu? Maksud kamu?” tanya Kang Kabayan, bingung. ”Akang pasti bingung ya? Sudah Kang, jangan dipikirin! Soalnya, saya juga dianggap stres kan sama orang sekampung saat saya memikirkan itu. Mendingan sekarang mah kita ngahariring saja Kang. Kita nyanyi, semoga saja nanti kita bisa seperti penyanyi-penyanyi terkenal dengan bayaran yang besar. Kita bisa kaya Kang,” kata Juned. Tanpa disuruh, Mang Juned mulai menyanyi lagi. ”Dunia iniii…panggung sandiwaraaa…”
”Heup Jun! Jangan menyanyi dulu. Akang masih penasaran, maksud kamu teh apa? Ingin hidup lebih baik, kita hraus kaya dulu, sedangkan untuk kaya, kehidupan kita harus baik dulu?” tanya Kang Kabayan. ”Euuhh…, ini the yang abayan the siapa atuh Kang? Seharusnya kan Akang yang menjelaskan itu dan saya yang nanya. Kan, perannya saya jadi orang bodoh di sini Kang… hehehe,” tutur Mang Juned.
”Sudah…sudah…, jangan ngomong soal peran. Sekarang jawab tuh pertanyaan Akang,” kata Kang Kabayan memaksa. ”Okayyy Kang…, setelah saya merenung, saya melihat bahwa saya tidak memiliki harapan. Lihat saja Kang, mereka yang maju adalah orang-orang yang kaya. Mereka punya berbagai fasilitas untuk maju. Jadi, untuk maju atau mendapat kehidupan yang lebih baik teh kita harus kaya dulu kan? Lalu, sekarang bagaimana caranya menjadi orang kaya? Ya, kita harus maju dulu Kang. Kita tidak boleh tertinggal oleh orang lain. Artinya, kita harus maju dulu untuk bersaing mencari kekayaan,” kata Mang Juned.
”Emh, bener nya Jun…. Lieur! Tapi kan ada cara muda untuk menjadi kaya Jun…, misalnya ikut kuis di televisi atau di mana saja. Hadiahnya bisa mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah Jun,” kata Kang Kabayan. ”Hehehe… memangnya itu bisa dijadikan andalan gitu Kang? Bukankah itu hanya mengadu nasib Kang?” ujar Mang Juned.
”Wah…, tidak tahu Jun. Yang jelas, kuis-kuis di televisi the dijadikan patokan sama Menpora untuk bonus atlet. Kata beliau, bonus atlet harus besar karena hadiah kuis di televisi juga besar. Moal enya, atlet yang berjuang berat dapat bonus sedikit, sedangkan yang menang kuis di televisi hanya beberapa jam bisa menang ratusan juta sampai miliaran rupiah,” kata Kang Kabayan. ”Ke…ke… Kang! Nanti dulu…, ini the siapa sih yang sebenarnya jadi Kabayan?” tanya Mang Juned, bingung!*
Komentar Terakhir