Hibah Rindu

”Longsor Jang…!” kata Kang Kabayan. ”Iya Kang…, banyak orang meninggal Kang. Dulur kita lagi Kang…,” kata saya menimpali. ”Emh, deudeuh teuing dulur-dulur kita teh ya Jang. Yang di kulon kena lonsor, yang di kidul kebanjiran. Kenapa atuh unggal usum hujan lembur kita teh sering kena musibah?” tanya Kang Kabayan.

”Jangan tanya sama saya Kang…,” kata saya. ”Tanya sama siapa atuh Jang? Pan yang ada cuma kamu di sini teh?” tanya Kang Kabayan lagi. ”Seperti kata Mas Ebiet, tanya saja sama rumput yang bergoyang Kang… hehehe,” kata saya sambil terkekeh. ”Lah, yang itu mah sudah tahu jawabannya Jang! Pasti jawabannya teh… hohohohoooo… hohohohoooo,” ujar Kang Kabayan.

”Hahaha… si Akang mah, teu kaop dibawa rada heureuy… langsung we beuki heureuy. Kita kan sedang ngobrol tentang saudara-saudara kita yang kena musibah. Kalah ka heureuy…,” kata saya. ”Har pan kamu yang ngamimitian. Kamu yang mulai… ulah nyalahkeun Akang atuh. Kau yang mulai… kau yang mengakhiri…,” kata Kang Kabayan sambil mendendangkan sepotong lirik lagu dangdut zadul, ”Rindu”.

”Tuh nya… Akang mah! Sudah ah Kang, ulah heureuy bae. Seperti yang tidak ikut prihatin saat dulur kena musibah teh! Maksud saya ngomongin lagunya Ebiet teh…, saya teringat pada lirik lagunya yang religius,” kata saya. ”Lirik yang mana Jang? Da lagu-lagu Ebiet mah banyak yang religius,” tutur Kang Kabayan. Kali ini, mimiknya mulai serius.

”Itu Kang…, yang begini tea gening Kang…, mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga akan dosa-dosa… atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita… coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang….” Saya mencoba melantunkan lagu Ebiet yang melegenda itu. ”Nya… terus kan jawabannya teh… hohohohooooo… hohohohooooo,” kata Kang Kabayan sambil melanjutkan lirik lagu Ebiet yang saya lantunkan.

”Nya…, si Akang mah angger!” kata saya agak kesal karena Kang Kabayan masih saja bergurau. ”Hehehe… tenang Jang! Tidak usah sewot and marah ya? Akang juga tahu maksud kamu…! Kalau Akang seperti main-main, akrena Akang tidak setuju sama Ebiet. Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Tuhan tidak akan pernah bosan. Alam juga makhluk Allah yang sabar. Diperlakukan seperti apa saja oleh manusia, alam itu diam. Kalau sekarang banyak bencana, itu karena ulah manusia. Kita ini…. manusia, sudah mengganggu keseimbangan alam. Banyak ulah kita yang membuat alam ini rusak. Jadi, bukan alam yang marah atau enggan bersahabat lagi dengan manusia, tapi karena alam sudah rusak. Sudah tak seimbang lagi. Itu yang disebut hukum Allah. Sunatullah! Itu makanya, Allah sudah berpesan kepada manusia untuk memelihara alam. Allah menjadikan manusia sebagai kalifah, sebagai pemimpin. Namun, ternyata kita telah menjadi pemimpin yang zalim, yang membuat kerusakan diu muka bumi ini,” tutur Kang Kabayan. Serius.

”Duh…, Kang betul pisan. Cuma, apa yang bisa kita lakukan sekarang Kang?” tanya saya. ”Hemmm… mun Akang punya tanah atau uang banyak mah, Akang akan menghibahkan harta Akang untuk pemeliharaan alam Jang!” ujar Kang Kabayan. ”Maksud Akang, seperti Pemkot Bandung yang menghibahkan uang puluhan miliar untuk Persib?” tanya saya.

”Betul Jang! Persis seperti itu. Sebagai hibah, harta itu tidak perlu dipertanggungjawabkan. Nanti saja pertanggungjawabannya di hadapan Allah,” kata Kang Kabayan lagi. ”Iyaaa…, itu kalau harta Akang sendiri. Bagaimana kalau uang rakyat yang digunakan hibah?” tanya saya. ”Nah…, kalau itu mah… ya harus dipertanggungjawabkan da uang milik salarea. Jangankan hibah, uang zakat saja harus ada pertanggungjawabannya kalau memang dikumpulkan dari banyak orang mah,” ujar Kang Kabayan.

”Euleuh…, mangkaning eta mah uang dari pajak rakyat…,” kata saya agak bergumam. ”Naon tea Jang?” tanya Kang Kabayan. ”Itu Kang, anggaran-anggaran hibah dari pemkot, termasuk untuk Persib,” kata saya lagi. ”Emh, enya nya…. Mangkaning lumayan gede eta teh Jang. Kalau tidak salah mah sampai puluhan miliar yang buat Persib teh,” ujar Kang Kabayan.

”Iya Kang…. Tapi, tahun depan mah katanya Persib dan klub-klub sepak bola di Indonesia harus berbadan hukum. Mereka tidak boleh lagi menggunakan anggaran daerah. Tidak boleh lagi menggunakan uang rakyat. Pertanyaannya, bisa enggak ya?” Saya memang agak meragukan itu.

”Bisa atau tidak, itu mah urusan belakangan Jang! Tenang we, PSSI mah biasana ge bikin aturan untuk mereka langgar sendiri. Biasa… kau yang mulai, kau yang mengakhiri. Kau yang berjanji, kau yang mengingkari…. Biasanya juga begitu. Nah, yang penting buat kita mah, tahun depan, kalau jadi Persib dan klub-klub lain berbadan hukum, pemkot atau pemkab teh jangan lagi menghibahkan uang ke mereka. Mendingan hibahkan untuk pemeliharaan alam. Tuh lihat di daerah-daerah tonggoh, mungkin perlu kita hijaukan lagi. Mungkin orang-orang yang di atas teh perlu bantuan untuk modal untuk kehidupan mereka. Kalau mereka sudah punya usaha mah, kan mereka teh tidak akan menebangi pohon lagi,” tutur Kang Kabayan. ”Iya Kang… setuju!” kata saya. (Tendy K. Somantri/”PR”)***.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.