Global Warming

”BANJIR lagi… banjir lagi Jang! Di mana-mana berita teh ngan banjir… kenapa ya bisa sampai terjadi banir di mana-mana? Padahal, dulu mah enggak pernah terdengar banjir yang seperti ini,” tutur Kang Kabayan tiba-tiba. ”Global warming Kang… global warming…!” ujar Mas Parto menimpali omongan Kang Kabayan.

”Heh… tahu apa kamu soal global warming? Jangan ngomong sembarangan kalau tidak tahu mah!” kata Kang Kabayan menyergah. ”Hehehe… Akang mah! Jangan anggap enteng Mas Parto Kang…! Mungkin saja Mas Parto bener-bener tahu tentang global warming… ya Mas?” kata saya mencoba membela Mas Parto.

”Lha…iya! Kang Kabayan jangan suka under estimate begitu sama saya. Setiap orang itu bisa grow up Kang…! Mungkin iya, dulu saya tidak bisa English, sekarang mah little-little I can… Brother!” ujar Mas Parto. ”Beu ituh! Kamu teh ka aing nyebut brother? Jangan mentang-mentang kamu sudah bisa bahasa Inggris, Parto!” Kang Kabayan agak naik pitam ketika dipanggil ”brother” oleh Mas Parto.

”Loh…, jadi saya harus manggil apa? Bahasa Inggrisnya ’Akang’ kan ’Brother’, jadi boleh dong saya manggil Akang dengan ’Brother Kabayan’. Biar rada gaya gitu Kang,” tutur Mas Parto. ”Hahaha…, betul itu Mas! Makanya… Kang, jangan suka menganggap enteng orang walaupun Akang kenal betul mereka. Orang itu bisa berubah. Tuh lihat, Mas Parto sudah banyak berubah,” kata saya lagi.

”Hehehe… iya juga ya…,” kata Kang Kabayan sambil menggaruk kepalanya. Entah karena gatal, entah karena merasa kehabisan kata. ”Jadi, menurut kamu, global warming itu gimana To?” tanya Kang Kabayan. ”Mau ngetes saya Brother?” Mas Parto balik bertanya. ”Meunggeus… meunggeus, monton brudar-brader… lieur ngadengena ge!” Kang Kabayan sewot.

”Hehehe… yo wiiis…! Global warming atau pemanasan global itu artinya bumi yang melakukan pemanasan. Nah, seperti atlet, kalau pemanasan itu suka keringatan. Jadi, bumi pun berkeringat saat melakukan pemanasan. Makanya, jadi banjir Kang!” tutur Mas Parto. ”Tuuuhhh… pan lieur! Sugan teh enya!” ujar Kang Kabayan. ”Memangnya bumi mau teh mau pertandingan, make jeung kudu pemanasan segala,” ujar Kang Kabayan. Kesal.

”Hahaha…,” saya tidak kuat menahan tawa. ”Tapi Kang…, dipikir-pikir mungkin ada benarnya juga. Bumi memang tengah pemanasan sehingga keringatnya keluar dan bikin banjir. Cuma, kita enggak tahu, bumi itu pemanasan untuk apa,” kata saya. ”Lah, kamu mah suka pipilueun…! Ikut-ikutan saja, enggak punya pendirian!” sergah Kang Kabayan.

”Hehehe… bukan begitu Kang! Masalahnya, saya sudah bosan dengan isu-isu lingkungan. Isu yang begitu-begitu saja. Semua ngomong soal penghijauan tapi pohon tetap ditebangi. Akibatnya, banjir lagi…! Jadi, mendingan ayeuna mah ngomongin olah raga saja Kang!” kata saya. ”Weeehh…, masalah di olah raga juga begitu-begitu saja Jang! Paling soal wasit, soal suap, soal kalah di kandang lawan, soal dana, …!” ujar Mas Parto. ”

”Iya juga ya Mas…! Jadi, enaknya kita ngomongin apa ya Mas?” tanya saya. ”Teroris!” kata Mas Parto cepat. ”Wah… enggak…enggak! Sararieun teuing! Sudah, sekarang mah daripada ngomong teu puguh, mendingan kita ngobrol Persib yang lagi menang terus. Posisinya naik tuh ke urutan kelima. Hebat…hebat…!” ujar Kang Kabayan.

”Iya Kang…, betul! Persib memang hebat, menangan terus! Itu pasti karena global warming Persib bagus. Sebelum pertandingan, bahkan saat latihan, mereka melakukan global warming yang bagus, jadi mainnya juga bagus,” ujar Mas Parto. Saya dan Kang Kabayan saling berpandangan. ”Ari kamu Parto! Cik Jang… benerkeun heula istilahnya, biar Akang enggak lieur,” kata Kang Kabayan.

”Hehehe…, Mas… kalau di olah raga mah bukan global warming atuh… tapi warming up! Kasihan Kang Kabayan jadi bingung tuh,” kata saya. ”Lho, warming up itu kalau sendirian Jang. Kayak pemain badminton, itu suka melakukan warming up. Nah, kalau Persib dan tim-tim sepak bola mah, kan pemanasannya rame-rame… jadi namanya global warming. Pemanasan rame-rame,” ujar Mas Parto.

”Hehehe… betul juga sih Kang apa kata Mas Parto teh…! Global warming memang terjadi karena kelakuan yang salah secara beramai-ramai. Jadi, boleh-boleh saja Mas Parto menggunakan istilah itu,” kata saya kepada Kang Kabayan. ”Ah…, meunggeus… meunggeus! Saruanya kamu mah! Akang jadi tambah pusing. Mendingan pulang daripada ngobrol teu pararuguh kieu mah,” kata Kang Kabayan sambil beranjak dari tempatnya duduk. Tanpa ba-bi-bu lagi, Kang Kabayan melangkah meninggalkan pos kamling. Pulang. *

Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.