”Jang…, asa bararosen ieu teh! Mendingan urang jalan-jalan ke kota yu? Urang nyaba” ujar Kang Kabayan. ”Laah.. Kang! Mau apa kita ke kota? Yang di kota saja sekarang mah pengennya ke kampung Kang…! Makan gaya kampung, biarin bayar mahal juga,” kata saya menyergah.
”Makan gaya kampung gimana Jang? Ngan makan sama ikan asin dan sambel doang? Memangnya orang kota mau makan seperti itu?” tanya Kang Kabayan. ”Iya Kang…, makan nasi liwet, ikan asin, lalab dan sambelnya, lalu makannya di sisi sawah. Terus, mereka teh mau bayar mahal untuk itu,” kata saya lagi.
”Berani bayar mahal? Hanya untuk makan seperti itu? Jauh dijugjug anggang diteang, mayar daek mahal… hanya untuk makan seperti itu?” Kang Kabayan menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin, ia merasa aneh denga perilaku orang kota. ”Kenapa bisa begitu ya Jang? Apakah mereka sudah bosan dengan makanan enak di kota?” tanya Kang Kabayan lagi.
”Ya… mungkin juga Kang! Seperti Akang, bararosen di lembur jadi ingin ke kota. Nah, yang di kota, karena sudah bosan dengan suasana di kota, ingin mencoba suasana di kampung. Jadi, we mereka berduyun-duyun untuk mendapatkan suasana seperti itu. Suasana yang jadi-jadian juga enggak apa-apa Kang. Pokoknya mah, serasa di lembur we!” kata saya memaparkan.
”Ooh… kitu nya Jang! Kalau begitu mah, mendingan kita bikin rumah makan aja di sini. Jigana mah bisa laku Jang…, suasana di sini masih asli Jang. Kita bisa jualan nasi liwet dan yang lain-lainnya dengan harga jauh lebih murah dibandingkan rumah makan atau restoran yang lain,” tutur Kang Kabayan.
”Jaba modalnya sedikit ya Kang…! Kita enggak usah bikin suasana lembur da sudah ada. Cuma, betul bakal laku enggak ya Kang? Terus, saya mah khawatir, nantinya kalau lembur kita kedatangan banyak orang, kebiasaan dan budaya kita bisa berubah,” kata saya. ”Nanti kita tidak bisa nongkrong lagi seperti ini Kang,” kata saya lagi.
”Betul Jang! Enggak apa-apalah kita berubah, yang penting kita bisa ngaronjatkeun nasib kampung kita ini. Jangan antiperubahan atuh Jang,” ujar Kang Kabayan. ”Wah, saya tidak antiperubahan Kang! Cuma, saya mah sering berkaca pada pengalaman yang sudah-sudah. Biasanya mah nasib kita enggak berubah, malahan kebiasaan dan budaya yang terkontaminasi sama kebiasaan para pendatang,” kata saya.
”Maksud kamu Jang? Pengalaman yang mana?” tanya Kang Kabayan. ”Begini Kang…, kita lihat kompetisi beberapa cabang olah raga kita menggunakan pemain asing kan…?” Belum selesai saya bicara, Kang Kabayan langsung memotong. ”Kee… kee…, apa hubungannya sama olah raga Jang?” tanya Kang Kabayan.
”Euh.. Akang mah! Saya kan belum selesai bicara. Maksud saya begini Kang, cabang-cabang olah raga kita kan mengundang pemain asing main di sini teh untuk menaikkan prestasi olah raga kita. Tapi, ternyata prestasi olah raga kita kan begitu-begitu saja. Teu naik-naik Kang!” kata saya.
“Terus?” tanya Kang Kabayan. ”Nah, yang naik itu kan justru cuma gaji pemain, gaji pelatih, gaji pengurus… pokoknya mah semua yang berbau duit, itu naik! Tapi, untuk prestasi, nya kitu-kitu keneh bae kan?” kata saya. ”Ooh…, maksud kamu teh ke sana. Memang sih kalau dilihat dari sisi itu mah. Kebiasaan-kebiasaan materialistik itu yang akan langsung mengimbas. Sementara transfer ilmu yang kita harapkan justru enggak pernah muncul ya Jang?” ujar Kang Kabayan.
”Nah, begitu Kang…! Akibatnya, ya perubahan itu mengarah ke sisi negatif. Itu yang saya khawatir. Di sepak bola, di bola voli, atau cabang-cabang lain… yang bisa kita lihat kan sekarang hanya pembengkakan biaya. Bukan pembengkakan prestasi. Betul begitu kan Kang?” tanya saya meyakinkan. ”Enya..nya! Jangan-jangan mun kita buka rumah makan yang payu di sini, nanti warga kita jadi pada matre ya Jang? Sagala hayang diduitkeun. Barudak jadi baramaen. Ih…amit-mit…palias!” ujar Kang Kabayan lagi. ”Iya Kang…, amit-amit!”