”Ngagurubug”

”KANG, Bandung dipilih PSSI jadi tempat rakernas. Hebat ya Kang,” kata Mas Parto sok tahu. Dia merasa bahwa dialah yang paling tahu dan lebih dulu tahu dari orang lain tentang rakernas itu. “Iya To! Akang juga sudah tahu. Jang Warta yang ngabejaan Akang tadi,” ujar Kang Kabayan.
“Loh, Akang sudah tahu toh? Kirain Akang dan Jang Warta belum tahu!” Mas Parto seperti kecewa. “Wah, enggak usah kecewa atuh Mas! Biasa saja. Da rakernas juga biasa-biasa saja. Lagi pula hasilnya juga biasa-biasa saja,” kata saya.
“Kang, Ujang, ini kopi dan pisang gorengnya ya,” Tiba-tiba Ceu Iteung muncul dari balik pintu dapur membawa makanan khas teman ngobrol kami. “Sudah lama kalian enggak datang ke sini, ngobrol di sini. Mani tos mariceun ka dieu teh,” ujar Ceu Iteung lagi.
“Hatur nuhun Ceu!” Saya dan Mas Parto hampir berbarengan mengucapkan terima kasih kepada Ceu Iteung. Kang Kabayan langsung mencomot satu pisang goreng lalu menyuapkannya ke mulut. Namun, Kang Kabayan ngagurubug sambil berteriak enggak jelas. “Hallaaah.. hannasss… Hanaasss..!”
Saya yang berniat mencomot pisang goreng jadi batal melaksanakan niat saya itu setelah melihat Kang Kabayan. “Haahahaha… kade atuh Kang!” Saya dan Mas Parto hanya bisa tertawa melihat tingkah Kang Kabayan. Memang selalu aneh dan lucu melihat orang yang makan suatu makanan yang masih panas. Mereka biasanya hanya berteriak-teriak tidak jelas, tapi tidak mau memuntahkan makanan itu.
“Kalian mah kalah ka nyeungseurikeun, bukannya ngabantuan,” kata Kang Kabayan dengan mata bekaca-kaca. Mulutnya sudah tak lagi penuh. Pasti potongan pisang goreng tadi sudah masuk ke perutnya tanpa kunyahan yang baik dan benar.
“Ngabantuan kumaha Kang! Tidak akan pernah ada yang bisa ngabantuan orang yang celaka karena kelakuannya sendiri. Hanya dia sendiri yang bisa melakukannya,” kata saya. “Betul Kang! Kami mah paling hanya bisa melihat dan tertawa. Kalau mau, ya berkomentar. Hehehe…,” timpal Mas Parto.
“Iya… Ya! Hehehe… Eh terus kumaha rakernas PSSI teh To?” Kang Kabayan mengalihkan topik pembicaraan. Entah karena malu dengan tingkah lakunya tadi, atau memang ingin mengalihkan topik pembicaraan. “PSSI Kang? Ya seperti Akang tadi,” kata saya.
“Seperti Akang? Maksud kamu Jang?” tanya Kang Kabayan. “Ya, seperti Akang. PSSI mah suka buru-buru pingin makan, enggak tahu makanannya masih panas. Buntutnya, gugurubugan sendiri kepanasan mulut, tapi malu atau merasa sayang untuk memuntahkannya,” kata saya.
“Emang, PSSI makan apa Jang?” tanya Mas Parto bingung. “Wah, perkara makan mah enggak tahu Mas. Tapi, yang jelas, PSSI itu suka makan omongannya sendiri yang panas,” kata saya. “Maksud kamu Jang?” Tanya Kang Kabayan.
“Begini Kang, sejak awal Liga Indonesia dimulai, semua orang bilang jangan dulu dilaksanakan. Matangkan dulu konsepnya, tapi PSSI jalan bae dan mereka bilang mau memperbaiki kompetisi sambil jalan! Lalu, tiap tahun kompetisi berubah-ubah. Akibatnya, PSSI sibuk ngurus bagaimana memperbaiki kompetisi, tapi lupa memperbaiki prestasi pemain dan timnas,” kata saya.
“Loh, kan kompetisi teh sebagai pembinaan prestasi pemain Jang?” ujar Kang Kabayan. “Ya Kang. Pembinaan prestasi pemain asing! Bukan pemain kita, da begitu banyak pemain asing yang main,” kata saya. “Jadi, saya mah enggak merasa aneh waktu Ketua PSSI bilang bahwa prestasi pemain kita tertinggal, da pemain-pemain kita mah sulit untuk mendapatkan peluang mengasah kemampuannya,” kata saya.
“Oalah… Betul juga ya Jang! Jadi aneh ya Jang, kenapa Ketua PSSI ngomongnya begitu? Kan, tanggung jawab dia membina prestasi teh?” Mas Parto menimpali sambil bertanya-tanya.
“Naahhh… Itu Mas! Persis kan seperti Kang Kabayan tadi? Anu makan pisang panas Kang Kabayan, nu gugurubugan juga Kang Kabayan. Kita mah penonton, paling hanya bisa melihat dan tertawa. Kalau mau, ya berkomentar kalau ga ya diam saja. Berkomentar oge enggak pernah didengar, keun weee…,” kata saya. “His! Enggak boleh begitu Jang! Kita harus terus mengingatkan. Tidak boleh kita berdiam diri saat orang lain dalam kesalahan. Itu pesan Allah dalam Al Ashr kan?” ujar Kang Kabayan.
“Oh.. Iya Kang…! Siaplah! Didengar atau tidak, kita wajib mengingatkan ya Kang?” kata saya. “Ya…,” jawab Kang Kabayan pendek. (Tendy K. Somantri/”PR”)***

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.