Departemen Kehutanan mengajukan anggaran sebesar Rp 1 triliun untuk merehabilitasi hutan di sekitar kawasan Bogor, Puncak, dan Cianjur. Busyet! Satu triliun rupiah! Saya yang belum pernah melihat secara langsung duit semiliar, begitu susah membayangkan berapa banyak hepeng setriliun. Konon, uang sebanyak itu untuk biaya pembangunan cekdam, sumur resapan, penanaman pohon dan sebagainya.
Terlepas dari benar tidaknya rencana pembangunan, ternyata “bos-bos” kita kok seperti baru ngeh! Mereka baru tahu bahwa hutan itu bernilai triliunan rupiah. Bayangkan, untuk kawasan Bopuncur saja, mereka butuh semiliar rupiah, padahal hutan rusak di Indonesia sudah tak terbilang lagi. Hutan-hutan di Kalimantan, Sumatra, dan Papua adalah korba-korban penggerusan anak bangsa.
Jangan salahkan alam ketika air mereka hilang saat kemarau, atau menggila saat musim hujan. Jangan menangis bila banyak nyawa melayang akibat banjir. Medan, Padang, dan kota-kota lain di Sumatra yang dilanda banjir bukanlah korban! Mereka hanyalah saksi betapa rusaknya Hutan Leuser di Aceh. Hutanlah yang menjadi korban.
Sumatra, Kalimantan, Papua, dan Sulawesi telah dirompak habis-habisan. Kekayaan hutan mereka telah dipreteli hingga gundul! Entah, berapa triliun yharus diganti oleh pemerintah bila kawasan Bopuncur (100.000 ha) saja sudah menelan biaya satu triliun.
Busyet memang! Lebih busyet lagi, semua itu akibat kerakusan manusia Indonesia (atau kebodohan?). Manusia Indonesia yang tak bisa menjalankan amanat sebagai kalifah di muka bumi. Manusia Indonesia yang sering lupa akan tugas dan tanggung jawab. Bahkan, Manusia Indonesia sering lupa pada diri sendiri, lupa pada asal muasal. Mereka sering lupa bahwa sebelum berada di atas, mereka berada di bawah terlebih dahulu. Mereka lupa bahwa sebelum besar itu kecil dahulu.
Saat semua kasip, mereka harus mengganti hutan dengan uang triliunan rupiah. Padahal, kalau hutan Indonesia tidak rusak, uang sebanyak itu bisa digunakan untuk kepnetingan lain. Pendidikan misalnya! Atau, kesehatan! Namun, semua memang sudah kasip. Kondisinya sudah berubah!
Mau tidak mau, manusia-manusia Indonesia yang berikutnya yang mendapat jatah memperbaiki kerusakan. Rela tidak rela, jatah pendidikan dan kesehatan mereka disunat untuk membangun kembali hutan Indonesia. Sedihnya, kita tidak mulai lagi dari nol, melainkan minus!
(Abahetet)
Komentar Terakhir