”TAAHHH, sekarang mah sudah rada bener Jang perencanaan pembangunan jalan di Bandung teh,” ujar Kang Kabayan. “Iya Kang, katanya mulai Mei nanti jalan-jalan di Bandung diperbaiki. Lubang-lubang jalan akan ditambal,” kata saya menimpali. “Pokoke, jalan-jalan di Bandung akan kembali mulus-mulus ya, Kang,” Mas Parto pun tidak mau ketinggalan berkomentar.
“Bukan itu saja Jang, To! Yang membuat Akang lebih reueus mah, dalam rencana pembangunan jalan di Bandung itu katanya bakal ada jalur khusus untuk pengendara sepeda. Ini mah langkah yang besar di lembur kita,” tutur Kang Kabayan. Terlihat sekali rasa bangga dalam nada bicara Kang Kabayan. “Wah, hebat, hebat! Kalau begitu mah nanti banyak yang akan naik sepeda Kang untuk jalan-jalan di kota teh,” ujar Mas Parto.
“Hemmm… iya sih, bagus pisan Kang! Tapi saya mah masih ragu.” Tentu saja, omongan saya itu membuat Kang Kabayan dan Mas Parto heran. Kang Kabayan yang hendak minum kopi agak merandeg. Dia memandang saya dengan dahi berkerut dan alis sebelah kanan terangkat. “Maksud kamu Jang? Ragu apanya?” tanya Kang Kabayan. “Iya Jang, ragu karena kita ndak punya duit untuk membangun jalan? Makanya pemerintah membuat rencana seperti itu, pasti anggarannya ada Jang!” Mas Parto tampak begitu bersemangat.
“Yang saya ragukan bukan soal kemampuan membangunnya Kang! Bukan itu Mas! Saya yakin, duit kita banyak. Bukankah sejak SD kita sudah diajari bahwa negara kita ini negara yang kaya. Jadi, soal duit mah pasti banyak,” kata saya. “Hehehe… betul Jang! Walaupun duitnya bukan di kita ya Jang ya?” kata Kang Kabayan sambil mengerdipkan mata kanannya. “Jadi, ragu karena apa atuh Jang?” tanya Mas Parto.
“Saya ragu, bisa bermanfaat atau tidak pembuatan jalur sepeda itu! Jangan-jangan, sudah dibuat jalurnya, tetap saja para sepeda akan kehilangan haknya,” kata saya. Kang Kabayan langsung mengerti apa yang saya ragukan. Kepalanya terangguk-angguk. Namun, Mas Parto masih tampak bingung. “Kok bisa mereka kehilangan haknya? Hak apa Jang?” tanya Mas Parto.
Kang Kabayan terlihat tersenyum. “Begini To! Si Ujang itu khawatir, jalur khusus yang dibuat sebagai hak pesepeda bakal diserobot oleh pengguna jalan yang lain. Betul begitu Jang?” ujar Kang Kabayan.
“Kok bisa?” tanya Mas Parto lagi. “Ya bisa saja Mas! Jangankan jalur sepeda yang masih ada di bahu jalan, trotoar saja yang menjadi hak pejalan kaki sudah direbut oleh pengguna jalan yang lain,” kata saya. “Para pedagang kaki lima, pengemudi becak, pengendara sepeda motor, bahkan pengendara mobil sudah merebut hak para pejalan kaki To!” tutur Kang Kabayan.
Mas Parto masih tampak bingung. “Kok bisa?” tanyanya lagi. “Ah, Mas Parto mah kayak orang yang belum lama di sini. Itu kan karena sikap dan tingkah laku bangsa kita yang berubah. Sikap yang ingin menang sendiri tanpa peduli pada hak dan nasib orang lain. Pokoknya, aku puas! Risiko mah belakangan,” kata saya.
“Nah, pola pikir yang seperti itu. Terus, jadi pola sikap dan tingkah laku sangat mudah kita lihat di berbagai segi kehidupan. Contoh paling hangat, waktu kemarin Persib bertanding lawan Arema. Kok, bisa penonton merembes ke dekat lapangan. Padahal, tribun penonton kan ditutup pagar tinggi? Padahal, panitia mencetak tiket kurang dari jumlah tempat duduk di stadion. Padahal, banyak petugas keamanan yang ada di sana. Tentunya ada yang salah di sini! Nah, kesalahan itu yang harus dicari kemudian segera diluruskan. Cari cara yang paling tepat untuk membenahinya dan laksanakan secara konsisten dan konsekuen,” tutur Kang Kabayan.
“Betul Kang! Hehehe… Akang bicaranya sudah kayak pejabat! Tapi, betul Kang! Selama pola pikir bangsa kita seperti itu, apa pun yang kita bangun tidak akan pernah bermanfaaat seperti yang kita harapkan. Bangsa kita akan saling serobot. Tapi ah… mudah-mudahan saja, jalur sepeda yang dibangun ini bisa menjadi titik tolak bagi kita membenahi sistem lalu lintas. Mudah-mudahan kita bisa mengembalikan semua jalan di Bandung ataupun kota-kota lainnya kepada fungsi yang sebenarnya,” kata saya.
“Amin! Asalkan pembangunan itu dibarengi dengan penegakan aturan Jang! Insya Allah, lalu lintas di kita bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang kita harapkan,” ujar Kang Kabayan. “Amin!” kata saya.
Sementara itu, Mas parto masih melongo, bingung. “Kok bisa?” tanya Mas Parto. “Bisa!” kata saya dan Kang Kabayan serempak. (Tendy K. Somantri/”PR”)***
Oleh: abahetet | Maret 17, 2010
Kok Bisa?
Ditulis dalam Yang aneh di sini
Komentar Terakhir