Oleh: abahetet | September 29, 2007

FILOSOFI EMBER

Alhamdulillah, air di rumah saya masih mengocor walaupun tidak terlalu bagus. Air yang keluar dari dalam tanah itu kecil dan kurang walaupun disedot jet pump berkekuatan 500 watt. Bagaimanapun, saya harus mensyukuri nikmat Allah itu. Dibandingkan dengan para tetangga, saya beruntung. Para tetangga harus membeli air yang lebih tidak jernih lagi dibandingkan air yang mengocor di rumah saya. Bukankah kenikmatan itu harus saya syukuri.

Saya dan tetangga, sudah biasa menggunakan serbuk penjernih air. Serbuk itu dilarutkan dalam air, lalu kita tinggal menunggu kotoran air mengendap di dasar bak. Nah, setelah mengendap, saya ambil selang untuk menyedot kotoran air itu.

Saat menyedot kotoran air, saya berpikir tentu air jernihnya pun ikut  tersedot. Jadi, sebaiknya saya tidak membuang langsung  hasil sedotan. Saya harus menyiapkan ember untuk menampungnya. Tanpa berpikir panjang, saya ambil ember paling tua yang masih berfungsi (tidak bocor). Toh, ember itu hanya berfungsi sebagai penampung sementara. Nanti, setelah kotorannya mengendap di dasar ember, saya bisa memindahkan air jernih di atas ke ember yang lain.

Saat mengalirkan hasil sedotan, tatapan mata saya tertuju pada ember tua yang menjadi penampung sementara. Dalam hati saya bertanya,  mengapa saya memilih ember tua itu? Mengapa saya tidak memilih ember yang lebih baik? Apakah karena yang saya alirkan ke ember itu adalah air yang mengandung kotoran?

Tiba-tiba…, saya merasa sedih! Saya merasa telah berlaku tidak adil kepada ember tua itu. Saya telah berlaku seperti masyarakat pada umumnya dalam memperlakukan ember yang sudah tua.  Biasanya, mereka menggunakan ember tua sebagai tempat sampah, sebagai alat mengangkut adonan semen, sebagai penampung air pel, atau sebagai pispot!

Kasihan sekali ember tua itu. Padahal, dia sudah banyak membantu saya. Namun, sekarang, saya melecehkannya dengan menempatkannya sebagai penampung air dan kotorannya. Lalu, setelah dia mengendapkan kotoran dan menjernihkan air, saya memindahkan air jernih itu ke ember lain. Sementara itu, endapan kotoran itu masih ada di ember tua. Ah…, bagaimana mungkin saya setega itu.

Mengapa saya tidak membuat ember tua itu tetap cantik dan bersih? Dengan mengecat dan menghiasnya, misalnya? Dengan demikian, saya  masih bisa menyejajarkan keberadaannya dengan ember-ember lain yang lebih muda.

(abahetet)


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.