WARAKADALAH… Apa kabar jang wartawan? Apa kabar kawan sayah, Kang Kabayan? Daramang? Sayah harap Anda sadaya daramang… hahaha. Saya harap Anda sadaya dapat ngajalankan amal-amal Ramadan tanpa cacat dan dapat ganjaran pahala Yang Mahakawasa. Pan Ramadan kakara datang. Salamat ngajalankan amal-amalnya yah?
Bagja.. bagja… saya dapat kabar bala bal-balan Anda salamat, kagak ragrag ka handap, bagja…bagja! Sayah mah ngan dapat manjatkan hamdalah ka Yang Mahakawasa da bala balbalan Anda kagak ragrag. Padahal, saacanna, sayah ngarasa waswas karna saya dapat kabar bala bala-balan Anda kapaksa makalangan dalam babak tambahan. Lah… kabayang sama sayah, waragadnya nambahan padahal sasarannya hanya jangan ragrag.
Ah.. bagja.. bagja… bala bal-balan Anda salamat. Ngan, jangan alpa pada masa yang akan datang. Pangalaman pada pakalangan yang kakara kajalanan bakal palajaran jang warsa yang akan datang. Masak bala bal-balan kabanggaan warga Jawa Barat kapaksa tandang na babak tambahan. Waaaahhh…, kabayang hanjakalnya warga Jawa Barat.
Cag ah, kabar sayah. Kapan-kapan, sayah bakal ngabaran sama Anda-anda. Sayah harap, sayah bakal dapat kabar yang bagja-bagja, kabar-kabar yang matak sayah dapat ngabarakatak dan bangga… hahaha…! Dag jang wartawan.. dag Kang Kabayan… salam yah ka sadayana!
Sayah, balad Anda sadaya
Raja Raksasa.
Demikian sepenggal surat dari Raja Raksasa, yang pernah saya wawancarai. Ternyata, dia begitu memerhatikan perkembangan sepak bola di negeri kita ini, khususnya kepada satu-satunya tim sepak bola asal Jabar yang berlaga di Divisi Utama PSSI, Persib. Entah dari mana dia mendapat kabar tentang perkembangan Persib. Mungkin, lewat internet. Sekarang tea era globalisasi. Dunia sudah semakin sempit. Kejadian di sini bisa segera diketahui oleh orang-orang di negara seberang lautan sekalipun.
Bicara soal era globalisasi, saya jadi khawatir. Jangan-jangan semua cerita tentang keadaan sepak bola kita dapat diketahui oleh orang lain. Masalahnya, ada hal yang aneh dalam perjalanan pembinaan sepak bola kita. Dirunut dari pelaksanaan kompetisi Liga Indonesia, dari yang pertama hingga yang kesembilan yang baru lalu, belum pernah terbetik kabar ada klub sepak bola yang mendapat untung secara finansial. Kabar yang tersiar ada klub juara malahan mengalami kebangkrutan dan bubar. Kenapa ya?
Dari arena sepak bola di luar negeri, kita sering mendengar klub-klub raksasa seperti Manchester United, Real Madrid, AC Milan, Juventus, dan lain-lain mendapat keuntungan yang sangat besar pada akhir kompetisi. Di Indonesia? Ya, seperti saya katakan, kabar yang tersiar hanyalah jumlah biaya yang dikeluarkan — yang jumlahnya sangat besar.
Katanya, sepak bola kita sudah mengarah kepada profesionalisme dan menjadi sebuah industri. Terus terang, bila saya menjadi seorang pengusaha, saya tidak akan pernah menanamkan modal saya untuk industri yang satu ini. Masalahnya, berita yang tersiar hanyalah pengeluaran dan pengeluaran dalam setiap tahunnya. Sebagai pengusaha, tentu saja saya tidak mau mengeluarkan modal terus-menerus tanpa mendapat keuntungan.
Bila saya seorang pengusaha, saya akan menginvestasikan uang saya ke usaha yang lebih aman. Paling tidak, saya akan mendepositokan uang saya di bank dan setiap bulan uang saya akan “beranak-pinak”, sedangkan saya bisa ongkang-ongkang sambil menikmati tayangan sepak bola luar negeri dengan kudapan dan secangkir teh manis yang hangat.
Nah, Raja Raksasa… kalau Anda ingin mendapat kabar yang menyenangkan dari saya, bagja… saya bukan pengusaha yang telah menginvestasikan uang saya di tim sepak bola mana pun di Indonesia ini. Bagja… saya kagak kabawa sama sakaba-kaba…. Eh ketang, da saya mah bukan pengusaha. He-he-he, dari mana saya punya uang bermiliar-miliar. He-he-he…, ngalamun!